Karena kita adalah saudara
Al-Qur'an dan sunnah
merupakan dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk oleh setiap
muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat
penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang
dikehendaki Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap,
ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.
Identitas seorang muslim dalam kehidupan pribadi dan publik kita
adalah suatu hal yang penting sama pentingnya dengan dien (agama) itu sendiri. Identitas
muslim? Bagaimana hal itu bisa dicapai? Dan bagaimana kita bisa memverifikasi
identitas Islam kita? Apa saja fakta yang membantu kita untuk mencapai tujuan
tersebut? Dan apa saja hal-hal yang menghambat jalan kita dan menghalangi kita
dari mencapai tujuan ini?
Semua pertanyaan ini penting membutuhkan
jawaban langsung dari setiap orang dari kita. Hal ini terjadi karena ini adalah
masalah penting yang kita hadapi hari ini dan akan terus menghadapi anak-anak
kita, generasi baru di masa depan. Masalah
identitas Islam dalam kehidupan pribadi dan publik kita adalah suatu hal yang
penting.
Persepsi (gambaran)
masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang
pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada
orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu
hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada
pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan
Al Qur'an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat
menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
Sepuluh Karakter Pribadi Muslim
Bila disederhanakan,
setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi
muslim.
1.
Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul
aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan
aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah
SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan
ketentuan-ketentuan-Nya. sebagaimana firman-Nya yang artinya: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku,
hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam" (QS.
6:162).
2.
Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul
ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu
haditsnya, beliau bersabda: "Shalatlah
kamu sebagaimana melihat aku shalat". Dari ungkapan ini maka
dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk
kepada sunnah Rasull SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau
pengurangan.
3.
Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul
khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap
muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya.
Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia
apalagi di akhirat. Allah SWT berfirman
yang artinya: "Dan
sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung" (QS.
68:4).
4.
Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul
jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada.
Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga
dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Rasulullah
SAW bersabda yang artinya: "Mukmin
yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5.
Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful
fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting.
Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas). Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada
kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang
artinya: Katakanlah:
"samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?"',
sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran".
(QS 39:9)
6.
Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul
linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri
seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan
yang buruk. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia
menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)"
(HR. Hakim)
7.
Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun
ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu
mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak
bersumpah di dalam Al Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad
dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya. Allah SWT memberikan waktu kepada manusia
dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam
itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu
tepat sebuah semboyan yang menyatakan: "Lebih baik kehilangan jam daripada
kehilangan waktu". Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak
akan pernah kembali lagi. Oleh karena
itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik
sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia.
Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima
perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat
sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum
miskin.
8.
Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman
fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al
Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait
dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan
dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan
bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. suatu urusan
mesti dikerjakan secara profesional
9.
Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun
alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim.
Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan
berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki
kemandirian terutama dari segi ekonomi Dalam
kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki
keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat
rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk
mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10.
Nafi'un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi'un
lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang
dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang
disekitarnya merasakan keberadaannya. Jangan sampai keberadaan seorang muslim
tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap
muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal
untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam
kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi
orang lain" (HR. Qudhy dari Jabir).
Kemudian selain dari itu, keberadaan manusia di permukaan bumi ini tidak terlepas dari:
Hamba yang beribadah kepada Allah
QS Adz Dzariyat ayat 56
Identitas seorang muslim
adalah seorang hamba yang harus taat kepada Allah dan RasulNya. Dimana kita
diciptakan oleh Allah swt semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Maka sebagai
seorang muslim hendaknya kita sadar tujuan kita diciptakan.
Sebagai khalifah di muka bumi
QS Al Baqarah ayat 30
Allah swt menciptakan
manusia di muka bumi ini untuk menjadi khalifah, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri.
Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin,
untuk seluruh umat manusia. Dimana seorang muslim membutuhkan pemimpin
yang mengarahkannya kepada shiratal mustaqim, demi keselamatan di dunia
dan akhirat.
Saling mengenal
QS Al Hujurat ayat 13
Manusia doiciptakan
dengan berbagai macam suku, bangsa, budaya, karakter an dan kepribadian yang
berbeda. Namun karenanya pula, manusia dituntut untuk saling mengenal satu sama
lain, karena manusia hidup sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu
sama lain.
Saling Bersatu
QS Ali Imran ayat 103
Kita sebagai seorang
muslim harus saling bersatu dan tidak bercerai berai. Sebab persatuanlah yang
akan menciptakan kemenangan dan kekuatan ibarat sapu lidi yang apabila dikumpulkan
menjadi satu tak kan mudah dipatahkan.
Ibarat satu bangunan dan satu tubuh
Seorang
muslim dengan muslim yang lainnya bagaikan satu tubuh yang apabila salah satu anggota tubuh sakit
maka anggota tubuh yang lain akan ikut merasakannya. Hal ini mengambarkan bahwa seorang muslim dengan
muslim yang lain adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.g keberadaannya
saling melengkapi dan menguatkan dalam ikatan ukhwah
persaudaraan.(Wafa Nursiham dan Fitri)

No comments:
Post a Comment