Monday, October 5, 2015

Sudahkah Anda bersaudara karena Islam?

Karena kita adalah saudara
Al-Qur'an dan sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah SAW yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang saleh. Pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah SWT.

Identitas seorang muslim  dalam kehidupan pribadi dan publik kita adalah suatu hal yang penting sama pentingnya dengan dien (agama) itu sendiri. Identitas muslim? Bagaimana hal itu bisa dicapai? Dan bagaimana kita bisa memverifikasi identitas Islam kita? Apa saja fakta yang membantu kita untuk mencapai tujuan tersebut? Dan apa saja hal-hal yang menghambat jalan kita dan menghalangi kita dari mencapai tujuan ini?

Semua pertanyaan ini penting membutuhkan jawaban langsung dari setiap orang dari kita. Hal ini terjadi karena ini adalah masalah penting yang kita hadapi hari ini dan akan terus menghadapi anak-anak kita, generasi baru di masa depan.  Masalah identitas Islam dalam kehidupan pribadi dan publik kita adalah suatu hal yang penting.

Persepsi (gambaran) masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda. Bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah. Padahal itu hanyalah satu aspek saja dan masih banyak aspek lain yang harus melekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al Qur'an dan Sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga dapat menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.

Sepuluh Karakter Pribadi Muslim 

Bila disederhanakan, setidaknya ada sepuluh karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.
1.                Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih)
Salimul aqidah merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. sebagaimana firman-Nya yang artinya: "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam" (QS. 6:162).
2.                Shahihul Ibadah (ibadah yang benar)
Shahihul ibadah merupakan salah satu perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: "Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat". Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasull SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3.                Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh)
Matinul khuluq merupakan sikap dan perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.  Allah SWT berfirman yang artinya: "Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung" (QS. 68:4).
4.                Qowiyyul Jismi (kekuatan jasmani)
Qowiyyul jismi merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Mukmin yang kuat lebih aku cintai daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)
5.                Mutsaqqoful Fikri (intelek dalam berfikir)
Mutsaqqoful fikri merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang juga penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas).  Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang, sebagaimana firman Allah yang artinya: Katakanlah: "samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?"', sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran". (QS 39:9)
6.                Mujahadatul Linafsihi (berjuang melawan hawa nafsu)
Mujahadatul linafsihi merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran Islam)" (HR. Hakim)
7.                Harishun Ala Waqtihi (pandai menjaga waktu)
Harishun ala waqtihi merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah SWT banyak bersumpah di dalam Al Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan seterusnya.  Allah SWT memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: "Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu". Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.  Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk pandai mengelola waktunya dengan baik sehingga waktu berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi SAW adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum datang sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8.                Munazhzhamun fi Syuunihi (teratur dalam suatu urusan)
Munazhzhaman fi syuunihi termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya. suatu urusan mesti dikerjakan secara profesional
9.                Qodirun Alal Kasbi (memiliki kemampuan usaha sendiri/mandiri)
Qodirun alal kasbi merupakan ciri lain yang harus ada pada diri seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian terutama dari segi ekonomi  Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik. Keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah SWT. Rezeki yang telah Allah sediakan harus diambil dan untuk mengambilnya diperlukan skill atau ketrampilan.
10.          Nafi'un Lighoirihi (bermanfaat bagi orang lain)
Nafi'un lighoirihi merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya. Jangan sampai keberadaan seorang muslim tidak menggenapkan dan ketiadaannya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berfikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dan mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda yang artinya: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain" (HR. Qudhy dari Jabir).

 Kemudian selain dari itu, keberadaan manusia di permukaan bumi ini tidak terlepas dari:

Hamba yang beribadah kepada Allah

QS Adz Dzariyat ayat 56
Identitas seorang muslim adalah seorang hamba yang harus taat kepada Allah dan RasulNya. Dimana kita diciptakan oleh Allah swt semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Maka sebagai seorang muslim hendaknya kita sadar tujuan kita diciptakan.

Sebagai khalifah di muka  bumi

QS Al Baqarah ayat 30
Allah swt menciptakan manusia di muka bumi ini untuk menjadi khalifah, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri. Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin,  untuk seluruh umat manusia. Dimana seorang muslim membutuhkan pemimpin yang mengarahkannya kepada shiratal mustaqim, demi keselamatan di dunia dan akhirat.

Saling mengenal

QS Al Hujurat ayat 13
Manusia doiciptakan dengan berbagai macam suku, bangsa, budaya, karakter an dan kepribadian yang berbeda. Namun karenanya pula, manusia dituntut untuk saling mengenal satu sama lain, karena manusia hidup sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain.

Saling Bersatu

QS Ali Imran ayat 103
Kita sebagai seorang muslim harus saling bersatu dan tidak bercerai berai. Sebab persatuanlah yang akan menciptakan kemenangan dan kekuatan ibarat sapu lidi yang apabila dikumpulkan menjadi satu tak kan mudah dipatahkan.

Ibarat satu bangunan dan satu tubuh


Seorang muslim dengan muslim yang lainnya bagaikan satu tubuh  yang apabila salah satu anggota tubuh sakit maka anggota tubuh yang lain akan ikut merasakannya. Hal ini  mengambarkan bahwa seorang muslim dengan muslim yang lain adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.g keberadaannya saling  melengkapi  dan menguatkan dalam ikatan ukhwah persaudaraan.(Wafa Nursiham dan Fitri)

No comments:

Post a Comment