Saturday, September 26, 2015

Tafsir Surah Al-Hujurat 07-11 Tentang Anjuran Mendamaikan Orang Yang Berselisih


Ø  Terjemahan surah al-hujurat 07-11
7.    Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
8.      Sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
9.    Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.
10. Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.
11.  Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.

Ø  Isi Kandungan Surah Al-Hujurat Ayat 07-11
Dalam surah al-hujurat khususnya pada ayat 07-11 memiliki isi kandungan sebagai berikut:
7-Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa keimanan kepada Allah akan menjauhkan diri dari  kejahatan.
8-Petunjuk bahwa segala nikmat yang ada dimuka bumi ini pada hakekatnya berasal dari Allah
9- Mendamaikan saudara muslim apabila di antara mereka ada yang sedang bertikai
1-Orang-orang yang beriman kepada Allah SWT itu sesungguhnya bersaudara
1-Orang-orang yang beriman tidak boleh merendahkan saudaranya yang lain. Dan tidak boleh memanggil orang lain yang mengandung ejekan.

Ø  Analisis (Tafsir) Surah al-hujurat 07-11
Dari ayat di atas kami bisa menganalisisnya dengan merujuk pada kitab tafsir Jalalain yakni sebagai berikut:
7.      (Dan ketahuilah oleh kamu sekalian bahwa di kalangan kalian ada Rasulullah) maka janganlah sekali-kali kalian mengatakan hal-hal yang batil, karena sesungguhnya Allah akan memberitahukannya seketika itu juga. (Kalau ia menuruti kemauan kalian dalam banyak urusan) yang kalian beritakan tidak sesuai dengan kenyataannya, oleh karena itu maka hasilnya sesuai dengan apa yang kalian beritakan itu (niscaya kalian akan mendapat dosa) yakni benar-benar kalian mendapat dosa karena hal itu, yaitu dosa memberikan keterangan yang palsu (tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah) yakni dipandang baik (dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan) pengertian Istidrak yang dikandung oleh lafal Laakin dipandang dari segi makna bukan lafalnya, karena sesungguhnya orang yang cinta kepada keimanan memiliki sifat-sifat berbeda dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh orang-orang yang telah disebutkan tadi. (Mereka itulah) di dalam ungkapan ini terkandung iltifat dari Mukhathab (orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus) yakni orang-orang yang teguh dalam agamanya.
8.     (Sebagai karunia dari Allah) lafal Fadhlan adalah Mashdar yang dinashabkan oleh Fi'ilnya yang keberadaannya diperkirakan sebelumnya, yaitu lafal Afdhala (dan nikmat) dari-Nya. (Dan Allah Maha Mengetahui) keadaan mereka (lagi Maha Bijaksana) di dalam memberikan nikmat-Nya kepada mereka.
9.    (Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin) hingga akhir ayat. Ayat ini diturunkan berkenaan dengan suatu masalah, yaitu bahwa Nabi saw. pada suatu hari menaiki keledai kendaraannya, lalu ia melewati Ibnu Ubay. Ketika melewatinya tiba-tiba keledai yang dinaikinya itu kencing, lalu Ibnu Ubay menutup hidungnya, maka berkatalah Ibnu Rawwahah kepadanya, "Demi Allah, sungguh bau kencing keledainya jauh lebih wangi daripada bau minyak kesturimu itu," maka terjadilah antara kaum mereka berdua saling baku hantam dengan tangan, terompah dan pelepah kurma (berperang) Dhamir yang ada pada ayat ini dijamakkan karena memandang dari segi makna yang dikandung lafal Thaaifataani, karena masing-masing Thaaifah atau golongan terdiri dari sekelompok orang. Menurut suatu qiraat ada pula yang membacanya Iqtatalataa, yakni hanya memandang dari segi lafal saja (maka damaikanlah antara keduanya) dan Dhamir pada lafal ini ditatsniyahkan karena memandang dari segi lafal. (Jika berbuat aniaya) atau berbuat melewati batas (salah satu dari kedua golongan itu terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali) artinya, rujuk kembali (kepada perintah Allah) kepada jalan yang benar (jika golongan itu telah kembali kepada perintah Allah maka damaikanlah antara keduanya dengan adil) yaitu dengan cara pertengahan (dan berlaku adillah) bersikap jangan memihaklah. (Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.)
10.  (Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah saudara) dalam seagama (karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian) apabila mereka berdua bersengketa. Menurut qiraat yang lain dibaca Ikhwatikum, artinya saudara-saudara kalian (dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat.)
11.  (Hai orang-orang yang beriman, janganlah berolok-olokan) dan seterusnya, ayat ini diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi. As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina (suatu kaum) yakni sebagian di antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah (dan jangan pula wanita-wanita) di antara kalian mengolok-olokkan (wanita-wanita lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kalian mencela diri kalian sendiri) artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela; makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang lain (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk) yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau hai orang kafir. (Seburuk-buruk nama) panggilan yang telah disebutkan di atas, yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan yang buruk (ialah nama yang buruk sesudah iman) lafal Al-Fusuuq merupakan Badal dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang (dan barang siapa yang tidak bertobat) dari perbuatan tersebut (maka mereka itulah orang-orang yang lalim.)

  Ø  Kesimpulan
Dari ayat di atas dapat disimpulkan  beberapa hal sebagai berikut:
1       Iman kepada Allah swt. merupakan hal yang sangat urgen karena keimanan itulah yang akan memberikan dorongan kepada manusia untuk beramal sholeh dan berusaha meninggalkan kemungkaran. Yang hal tersebut telah dijelaskan oleh Allah swt. di akhir ayat 7 surah al-hujurat di atas yakni ”…Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Merka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.

2       Segala kenikmatan yang ada di muka bumi pada hakekatnya berasal dari Allah swt., namun sebagian dari manusia itu tidak menyadari hal tersebut bahkan ada sebagian yang beranggapan bahwa nikmat yang mereka dapatkan merupakan kerja keras mereka sendiri. Ketika manusia bias menyadari hakekat dari nikmat yang mereka dapatkan maka mereka tidak akan menyombongkan diri.

3         Bertolak dari ayat ke sembilan dan kesepuluh di atas, Allah swt. mengatakan bahwa orang mukmin itu bersaudara sehingga ketika ada orang mukmin yang bertikai atau berselisih maka mukmin yang lain berusaha untuk mendamaikan mereka yang bertikai. Hal inilah yang seharusnya dimiliki setiap ummat Islam agar ukhuwah bisa terjaga dan bisa melindungi satu sama lain, namun ketika ummat Islam tidak memiliki hal tersebut maka akan menimbulkan perselisihan internal antar umat muslim itu sendiri.


4.                 Terkait ayat sebelas di atas, Allah menjelaskan bahwa kita tidak boleh memanggil saudara-saudara kita dengan gelar yang tidak mereka suka, tapi hendaknya kita memanggil mereka dengan nama-nama yang mereka suka. Ketika ada larangan seperti itu berarti ada kebaikan yang tersembunyi dibalik itu semua, yakni yang kami pahami adalah akan menimbulkan perselisihan kalau kita memanggil manusia dengan gelar yang mereka tidak suka karena mereka merasa dihina dan dilecehakan dan sebaliknya apabila kita memanggil mereka dengan gelar yang mereka suka maka akan menimbilkan kecintaan karena mereka merasa dihargai dan dihormati.

No comments:

Post a Comment