Ø Terjemahan surah
al-hujurat 07-11
7. Dan
ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti
kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi
Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah
di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan
kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,
8. Sebagai
karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
9. Dan
kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu
damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap
yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut
kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya
menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai
orang-orang yang Berlaku adil.
10. Orang-orang
beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat.
11. Hai
orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan
kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka.
dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi
yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan
jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan
adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat,
Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.
Ø Isi
Kandungan Surah Al-Hujurat Ayat 07-11
Dalam surah al-hujurat
khususnya pada ayat 07-11 memiliki isi kandungan sebagai berikut:
7-Dalam
ayat ini Allah menjelaskan bahwa keimanan kepada Allah akan menjauhkan diri
dari kejahatan.
8-Petunjuk
bahwa segala nikmat yang ada dimuka bumi ini pada hakekatnya berasal dari Allah
9- Mendamaikan
saudara muslim apabila di antara mereka ada yang sedang bertikai
1-Orang-orang
yang beriman kepada Allah SWT itu sesungguhnya bersaudara
1-Orang-orang
yang beriman tidak boleh merendahkan saudaranya yang lain. Dan tidak boleh
memanggil orang lain yang mengandung ejekan.
Ø Analisis
(Tafsir) Surah al-hujurat 07-11
Dari ayat di
atas kami bisa menganalisisnya dengan merujuk pada kitab tafsir Jalalain yakni
sebagai berikut:
7. (Dan
ketahuilah oleh kamu sekalian bahwa di kalangan kalian ada Rasulullah) maka
janganlah sekali-kali kalian mengatakan hal-hal yang batil, karena sesungguhnya
Allah akan memberitahukannya seketika itu juga. (Kalau ia menuruti kemauan
kalian dalam banyak urusan) yang kalian beritakan tidak sesuai dengan
kenyataannya, oleh karena itu maka hasilnya sesuai dengan apa yang kalian
beritakan itu (niscaya kalian akan mendapat dosa) yakni benar-benar kalian
mendapat dosa karena hal itu, yaitu dosa memberikan keterangan yang palsu
(tetapi Allah menjadikan kalian cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu
indah) yakni dipandang baik (dalam hati kalian serta menjadikan kalian benci
kepada kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan) pengertian Istidrak yang dikandung
oleh lafal Laakin dipandang dari segi makna bukan lafalnya, karena sesungguhnya
orang yang cinta kepada keimanan memiliki sifat-sifat berbeda dengan sifat-sifat
yang dimiliki oleh orang-orang yang telah disebutkan tadi. (Mereka itulah) di
dalam ungkapan ini terkandung iltifat dari Mukhathab (orang-orang yang
mengikuti jalan yang lurus) yakni orang-orang yang teguh dalam agamanya.
8. (Sebagai karunia dari Allah) lafal Fadhlan
adalah Mashdar yang dinashabkan oleh Fi'ilnya yang keberadaannya diperkirakan
sebelumnya, yaitu lafal Afdhala (dan nikmat) dari-Nya. (Dan Allah Maha
Mengetahui) keadaan mereka (lagi Maha Bijaksana) di dalam memberikan nikmat-Nya
kepada mereka.
9. (Dan
jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin) hingga akhir ayat. Ayat ini
diturunkan berkenaan dengan suatu masalah, yaitu bahwa Nabi saw. pada suatu
hari menaiki keledai kendaraannya, lalu ia melewati Ibnu Ubay. Ketika
melewatinya tiba-tiba keledai yang dinaikinya itu kencing, lalu Ibnu Ubay
menutup hidungnya, maka berkatalah Ibnu Rawwahah kepadanya, "Demi Allah,
sungguh bau kencing keledainya jauh lebih wangi daripada bau minyak kesturimu
itu," maka terjadilah antara kaum mereka berdua saling baku hantam dengan
tangan, terompah dan pelepah kurma (berperang) Dhamir yang ada pada ayat ini
dijamakkan karena memandang dari segi makna yang dikandung lafal Thaaifataani,
karena masing-masing Thaaifah atau golongan terdiri dari sekelompok orang.
Menurut suatu qiraat ada pula yang membacanya Iqtatalataa, yakni hanya
memandang dari segi lafal saja (maka damaikanlah antara keduanya) dan Dhamir
pada lafal ini ditatsniyahkan karena memandang dari segi lafal. (Jika berbuat
aniaya) atau berbuat melewati batas (salah satu dari kedua golongan itu
terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu
sehingga golongan itu kembali) artinya, rujuk kembali (kepada perintah Allah)
kepada jalan yang benar (jika golongan itu telah kembali kepada perintah Allah
maka damaikanlah antara keduanya dengan adil) yaitu dengan cara pertengahan
(dan berlaku adillah) bersikap jangan memihaklah. (Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang berlaku adil.)
10. (Sesungguhnya
orang-orang mukmin adalah saudara) dalam seagama (karena itu damaikanlah antara
kedua saudara kalian) apabila mereka berdua bersengketa. Menurut qiraat yang
lain dibaca Ikhwatikum, artinya saudara-saudara kalian (dan bertakwalah kepada
Allah supaya kalian mendapat rahmat.)
11. (Hai
orang-orang yang beriman, janganlah berolok-olokan) dan seterusnya, ayat ini
diturunkan berkenaan dengan delegasi dari Bani Tamim sewaktu mereka mengejek
orang-orang muslim yang miskin, seperti Ammar bin Yasir dan Shuhaib Ar-Rumi.
As-Sukhriyah artinya merendahkan dan menghina (suatu kaum) yakni sebagian di
antara kalian (kepada kaum yang lain karena boleh jadi mereka yang
diolok-olokkan lebih baik dari mereka yang mengolok-olokkan) di sisi Allah (dan
jangan pula wanita-wanita) di antara kalian mengolok-olokkan (wanita-wanita
lain karena boleh jadi wanita-wanita yang diperolok-olokkan lebih baik dari
wanita-wanita yang mengolok-olokkan dan janganlah kalian mencela diri kalian
sendiri) artinya, janganlah kalian mencela, maka karenanya kalian akan dicela;
makna yang dimaksud ialah, janganlah sebagian dari kalian mencela sebagian yang
lain (dan janganlah kalian panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk)
yaitu janganlah sebagian di antara kalian memanggil sebagian yang lain dengan
nama julukan yang tidak disukainya, antara lain seperti, hai orang fasik, atau
hai orang kafir. (Seburuk-buruk nama) panggilan yang telah disebutkan di atas,
yaitu memperolok-olokkan orang lain mencela dan memanggil dengan nama julukan
yang buruk (ialah nama yang buruk sesudah iman) lafal Al-Fusuuq merupakan Badal
dari lafal Al-Ismu, karena nama panggilan yang dimaksud memberikan pengertian
fasik dan juga karena nama panggilan itu biasanya diulang-ulang (dan barang
siapa yang tidak bertobat) dari perbuatan tersebut (maka mereka itulah
orang-orang yang lalim.)
Ø Kesimpulan
Dari
ayat di atas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut:
1 Iman
kepada Allah swt. merupakan hal yang sangat urgen karena keimanan itulah yang
akan memberikan dorongan kepada manusia untuk beramal sholeh dan berusaha
meninggalkan kemungkaran. Yang hal tersebut telah dijelaskan oleh Allah swt. di
akhir ayat 7 surah al-hujurat di atas yakni ”…Allah menjadikan kamu ‘cinta’
kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta
menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Merka
itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.
2 Segala
kenikmatan yang ada di muka bumi pada hakekatnya berasal dari Allah swt., namun
sebagian dari manusia itu tidak menyadari hal tersebut bahkan ada sebagian yang
beranggapan bahwa nikmat yang mereka dapatkan merupakan kerja keras mereka
sendiri. Ketika manusia bias menyadari hakekat dari nikmat yang mereka dapatkan
maka mereka tidak akan menyombongkan diri.
3 Bertolak
dari ayat ke sembilan dan kesepuluh di atas, Allah swt. mengatakan bahwa orang
mukmin itu bersaudara sehingga ketika ada orang mukmin yang bertikai atau
berselisih maka mukmin yang lain berusaha untuk mendamaikan mereka yang
bertikai. Hal inilah yang seharusnya dimiliki setiap ummat Islam agar ukhuwah
bisa terjaga dan bisa melindungi satu sama lain, namun ketika ummat Islam tidak
memiliki hal tersebut maka akan menimbulkan perselisihan internal antar umat
muslim itu sendiri.
4. Terkait
ayat sebelas di atas, Allah menjelaskan bahwa kita tidak boleh memanggil
saudara-saudara kita dengan gelar yang tidak mereka suka, tapi hendaknya kita
memanggil mereka dengan nama-nama yang mereka suka. Ketika ada larangan seperti
itu berarti ada kebaikan yang tersembunyi dibalik itu semua, yakni yang kami
pahami adalah akan menimbulkan perselisihan kalau kita memanggil manusia dengan
gelar yang mereka tidak suka karena mereka merasa dihina dan dilecehakan dan
sebaliknya apabila kita memanggil mereka dengan gelar yang mereka suka maka
akan menimbilkan kecintaan karena mereka merasa dihargai dan dihormati.
No comments:
Post a Comment