Wednesday, October 14, 2015

Cerpen Islami: Di Balik Ujian dan Cobaan Ada HIkmah

PERSIMPANGAN

Kepemimpinan air, pandangan menghentikan aktivitas antara arah dan tujuan. Sabar dan menunggu hingga air mampu untuk melewati hambatan. Meskipun kadang air diasumsikan diam-diam menghanyutkan. Siapa yang dapat menduga ketika persimpangan arah yang menjadi tanda tanya bagi insan yang berjalan. 

Tersenyum dengan beberapa hambatan yang menghadang, bahagia dengan apa yang akan diraih ketika persimpangan telah dilewati. Dilema dengan beberapa masalah yang memamg berawal dari perbuatan diri sendiri. 
“Nanda...!” panggil Hajar saat melihat Nanda mulai menatap kertas tak bertinta “kok melamun”. 
“melamun! ngak kok, Cuma lagi menikmati kesendirian.” Balas Nanda
“oh... nggak minat untuk cerita?”tanya lagi
“Mau cerita apaan?”Tanya balik 
“terserah kamu aja deh”. Ucap Hajar
“lengkali aja de, lagi mau sendiri dulu” Balas Nanda kemudian berjalan meninggalkan Hajar. 
Untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan kadang-kadang menghadapi cobaan, jalan tidak selalu mulus yang ditempuh. Sabar bahwa pada setiap usaha pasti ada rintangan yang dihadapi. 
Nanda mencoba menghibur diri sendiri sebagai rutinitas kebiasaan yang melanda perjalanan. Dibukannya catatan dari dalam tas ranselnya. 


"Doa merupakan suatu kunci Rahmat, maka mulailah amal-amal kamu sekalian dengan doa. Barang siapa yang menginginkan agar Allah swt berkenang mengabulkan doa baginya dikalah kesempitan dan kesusahan, maka perbanyaklah berdoa diwaktu lapang dan perbanyaklah membaca shalwat atas Nabi saw. Dengan demikian niscaya Allah swt akan mengcukupinya baik mengenai urusan dunia maupun akhirat. 
Nabi Muhammad saw memberikan kegembiraan kepada ummatnya dengan kemuliaan Allah Ta’ala dan perintah-Nya. 
“Berdoa padaku niscaya akan ku perkenangkan bagimu”(Q.S Al-Mukmin 60) 
Kemudian beliau mempertegas dengan sabdanya: 
“Doa itu adalah ibadah”(HR. Abu Daud dan Tarmudzi) dan “Doa itu adalah otaknya ibadah”(H.R Bukhari)" 


Angin berhembus layaknya belaian sang Khalik kepada hamba-Nya. 
Burzz... petir menyambar di telingah, panasnya dunia kini terasa oleh hawa nikmat sekaligus bencana bagiku. Tidak ada jalan selain meminta pada-Mu Rab, sedangkan bicarapun dengan mereka sebagai usaha ternyata sekadar membuatku tersenyum belaka. Aku menghela nafas dengan penguatan bahwa mereka yang ada merupakan nikmat sekaligus ujian untukku.
“Pantaskah Aku memperoleh hal demikian?” tanya diriku setelah berapa lama terdiam menikmati tugas kelompokku. 

Pening pada telinga benar-baner membuatku tersadar, Aku memang merepotkan namun, kemana akan pergi ? Disinilah tempatku berlindung dinyatakan aman dari luar oleh mereka yang tidak tahu keadaan. 
“kamu bisa apa!” ucap lucy
Aku hanya menatap dengan senyuman penuh ragu, ingin membalasnya rasanya serba salah. “Aku tau! Aku hanya orang yang tidak berguna di mata mereka, dibesarkan dan seolah anak yang dibuang” Itulah kata yang selalu teringat di kepala yang kecil ini. Hujan tidak turun diluar sana melainkan dalam perasaan. 

Ku ambil NoteBook kemudian menulis hal-hal yang menurut saya perlu untuk di tulis dalam memory. Dendam bukanlah tipeku hanya sebagai motivasi untuk kedepan dengan cerita yang pernah di ceritakan guruku saat masih duduk dibangku SMP dulu. 

Sakit hanyalah perasaan, maka dari itu tersenyumlah untuk menghapus seluruh sakit yang kamu rasa. Sepintas terlewatkan untuk mengambil jalan pintas masalah, ku ambili tas, dengan beberapa perlengkapan untuk bertempur di luar sana. Terik bayangan mentari menggambarkan bentuk sudut lancip diatas jam 12 siang. 

Langkah demi langkah ini tanah tidak terlihat lagi. Untuk kesekian kalinya ketika merasa jenuh Aku mencoba menghibur diri. Dengan berbekal uang Rp.5.000,- Aku menelusuri perjalanan dengan satu tujuan, Banyak hal berubah disepanjang jalan hingga membuat hati seakan ingin menangis dan takjub, menangis karena masalah dan takjub karena perkembangan kota semakin meningkat namun saat seperti ini terlitaslah kembali “Jangan menangis kalau ingin menuntut ilmu” kata yang sederhana inilah yang membuat Aku dapat berdiri sampai saat ini, tepat saat itu Aku berada di Parepare, daerah Sulawesi selatan kali pertama Aku berpisah dengan Ibu. Meskipun beberapa hari Aku hanya menagis di tempat tidur, sempat berkata “Mama tidak sayang padaku” Aku mengerti bahwa sebenarnya Mama sangat sayang padaku. Tujuan hampir sampai, bangunan yang menjulang tinggi telah nampak. 

Inilah tujuan pertamaku tahun 2008 awal menginjakkan kaki di kota ini. Berbagai episode kehidupan di dunia telah Aku lewati hingga sadar tidak sadar Aku sendiri tidak dapat menghitungnya. Yang namanya kehidupan! siapa yang tau? manusia hanya dapat merencanakan, Segalanya diserahkan kepada Allah. 
Tersenyum adalah salah satu penghapus luka yang melanda manusia, kadang juga sebagai awal untuk menutup luka dari luar jangkauan sanak saudara maupun teman. 

Angin bertiup lagi, menggoyangkan dahan pohan nan melambai. Di punjak pohon nampak lambaiyan yang sangat kuat berbeda dengan pohon yang pendek. Mantap teori ternyata tidak mendukung dapat melakukannya dengan baik. 

Aku menatap gerbang rumah, di atas tertulis nama yang tidak asing lagi, inilah tempat dimana Aku dibesarkan. Dengan melangkah mencari sosok yang sudah Aku rindukan, diruang tamu Bapak sedang membaca undangan. 
“Pak Nanda pulang” ucapku mencoba mengalihkan pandangannya, Lina menyadari kedatanganku “Kak Nanda, kenapa baru datang lagi?”
“Mm... Ah, biasa lagi sibuk saja”
“Bapak kalau sudah duduk di singgah sananya mana mau beralih kalau bukan kita yang mengganggunya, kakak ndak puasa?”
“nggak, kenapa?”
“ayo makan dulu”
“yang lain pada kemana?”
“lainnya ada yang belum pulang kuliah, kerja, juga sekolah” 

Ruangan makan mengalami perubahan lagi, sebenarnya ruang makan ini adalah multidimensi dan tentu membuatku nyaman saat berada disini. Sudah hampir dua tahun Aku meninggalkan rumah. Namun, kesannya masih sama seperti sedia kala. Penghuni rumah ada yang berbeda tapi tidak membuat suasana menjadi hambar.

Teringat kembali lembaran perjalanku saat masih disini, Sosok ibu yang sangat luar biasa. Kuawali makan siang ku dengan mengucapkan basmalah.
“kemana Inna?”
“service motor”
“oh, begitu”
Aku melihat kak Indah masuk ke dalam rumah sambil membawa helm.
“kaya ada suaranya Jejen” nama itu merupakan aliyas namaku.
“Apa kak Indah”ucapku sambil menatapnya.
“liatki dulu leptopku”
“Maksudnya?” tanyaku balik
“berubahki tampilan aplikasinya, liat nanti” ucapnya 
“ia, itu si gampang kalau hanya lihat-lihat” balasku 

Menelusiri perjalan dengan Al-qur’an surah Ar-rahman yang berkali-kali di ulang “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan” kata yang sangat mujarab membuat diri terasa damai saat merenung. 

Tempat ini merupakan serpihan perjalanan separuh dari jiwa, tempat di mana terasa damai saat menginjakkan kaki. Cobaan yang menyapa tidak membuat diri merasa terpuruk saat berada disini. Kata-kata berubah menjadi positif saat berada disini, suara yang sunyi mengantarkan diri memasuki sona renungan yang mendalam. 

Cobaan itu hanya menghampiri orang yang telah disanggupkan menghadapinya selebihnya bersabarlah karena sesungguhnya kesabaran itu awal tak berbatas jika kamu ingin sampai tujuan. Kata yang pemiliar jelas sudah tidak asing lagi di telingahku sebagai ucapan hiburan saat teman-teman butuh suport dan tentu ucapanku yang membuatku tidak ingin tergilas olehnya “Ketika Aku mampu membuat orang lain bangkit dari keterpurukannya mengapa Aku sebagai sumbernya tidak mampu, bukankah? Aku yang mengajarkan!” 

Inilah persimpangan di setiap langkah yang menghambat, layaknya air yang ingin melewati pembatas kolom kamar mandi tentu membutuhkan berapa menit hingga menjadi banyak, Barulah air mampu melewati. Demikian itulah sabar! 
End. 

Detik-detik alur: 
Perjalananku spritualku! Bagaimana tidak? Aku dipertemukan dengan berbagai problematika yang unik. Walaupun , terkadang lelah, letih, putus asa dan beranjak untuk mundur. Hingga kutemukan diriku yang penuh arti dalam bayang-banyang. Aku selalu bertanya pada diri sendiri, apakah kamu sampah dunia? Seperti apa yang didengung-dengungkan bisikan yang samar di lembah bisikan. Aku kembali dan selalu bertanya pada diri sendiri yang merupakan musuh yang nyata sekaligus teman. Pernah Aku berkata” jika kamu dapat memberikan motivasi maka kamu harus termotivasi oleh kamu sendiri”. 

Apa kabar musuh terberatku? Dirimu yang angkuh tidak pernah menyerah, dapatkah! Sifat ini mendominasi dan menutupi sifat yang angkuh? Aku bertekad dan kembali merangkai kata-kata yang mampu diartikan oleh hati dan dibenarkan oleh pikiran serta diamalkan dengan perbuatan. 

Menyambut pagi dengan sambutan manis dalam satu rangkaian dengan belaian angin ketika beranjak, tetesan angin bening membangunkan kulit yang masih dibawah pengaruh. Tepat jam 04.35 ketika menatap layar phonsel. Sungguh terasa damai hingga tidak mendengar bisingnya metropolitan. 

Rangkaian indah berubah tidak indah saat malas mulai menyapa hingga dilema, kemalasan lebih mendominan dan yang lain ikut terbelakang. Malas! Inilah penyakit yang masih melekat. Diri menggerutuh! Saling bertanya satu sama lain dalam bingkai satu kesatuan, tarik manarik layaknya partikel positif dan negatif hingga Aku kembali dengan komitmen diri sendiri yang dibawah diri dan telah menjadi pegangan. Yakinlah dengan berusaha diiringi doa, insyah Allah sekembalimu, Aku akan menyambutmu dengan gembira.(Written by Nur Jannah) 



 



No comments:

Post a Comment