Wednesday, October 7, 2015

Pendidikan Islam Adalah Solusi Permasalahan Pendidikan Indonesia


Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan manusia karena hal tersebutlah yang memjadi pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya. Dengan kata lain kemuliaan manusia dengan makhluk yang lainnya ada pada pendidikan. Manusia yang berpendidikan akan memiliki kearifan dan kebijaksanaan dalam memecahkan suatu permasalahan, sedangkan manusia yang tidak berpendidikan akan mengalami kesulitan dalam memecahkan persoalan hidup yang dihadapi.
Pendidikan saat ini khususnya di Indonesia masih sangat jauh dari harapan bangsa Indonesia yang termaktub dalam UUD 1945 Republik Indonesia yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, maka dari itu perlu diketahui bersama inti permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia agar bisa dipikirkan bersama untuk menyelesaikannya. Di dunia internasional, kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120 negara di seluruh dunia berdasarkan laporan tahunan UNESCO Education For All Global Monitoring Report 2012. Sedangkan berdasarkan Indeks Perkembangan Pendidikan (Education Development Index, EDI), Indonesia berada pada peringkat ke-69 dari 127 negara pada 2011.

Dominasi Materialisme Sumber Permasalahan Pendidikan

Materialisme merupakan salah satu penyakit dalam pendidikan saat ini, karena dapat menghilangkan nilai-nilai ketuhanan yang dijunjung tinggi selama ini. Hal ini digambarkan oleh Mustafa Masyhur bahwa Materialistik telah mendominasi kehidupan masyarakat pada saat nilai-nilai ketuhanan mengalami kemorosotan yang cukup parah. Hal ini sebagai akibat buruk  dari gelombang kebudayaan materialistis yang sedang membuncah serta peradaban hedonis syahwati yang telah menyerang negara-negara secara keseluruhan. Kekelaman materi dalam kehidupan masyarakat telah mengalahkan cahaya kebenaran dan ketinggian ruhani sehingga nilai-nilai luhur tidak lagi menjadi sesuatu yang diagungkan.
Materialisme menurut Drijarkara dalam bukunya yang berjudul Percikan Filsafat menggambarkan bahwa Materialisme tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti roh, hantu, setan dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati. Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya bersifat abadi. Tidak ada penggerak pertama atau sebab pertama. Tidak ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi dari materi.
Berdasarkan apa yang digambarkan oleh Drijarkara di atas, bisa dipahami bahwa ketika pendidikan saat ini sudah terjangkit penyakit kronis yang namanya materialisme maka tujuan yang menjadi fokus manusia adalah bagaimana memenuhi kebutuhan fisiknya saja,dan bagaimana mengumpulkan harta yang banyak tanpa memperhatikan lagi nilai-nilai luhur yang selama ini dipelihara oleh masyarakat Indonesia, sehingga hal tersebut jauh dari makna pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Nucholis Madjid bahwa  pendidikan atau tarbiyah adalah proses transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik agar ia memiliki sikap dan semangat yang tinggi dalam memhami dan menyadari kehidupannya, sehingga terbentuk ketakwaan, budi pekerti, dan kepribadian yang luhur. Permasalahan ini merupakan permasalahan mendasar yang harus segera diatasi oleh pakar-pakar pendidikan dan pemerintah khususnya di Indonesia.

Permasalahan dan Solusi Pendidikan di Indonesia

Untuk menyelesaikan permasalahan mendasar tersebut, penulis sebagai pelaku pendidikan mencoba untuk mengemukakan beberapa solusi yang bisa diterapkan di dunia pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia. Adapun Solusi yang ditawarkan penulis adalah sebagai berikut:
1.     Hendaknya pendidikan di Indonesia saat ini diintegrasiakan nilai-nilai agama karena dalam agama mengajarkan nilai-nilai ketuhanan yang mengajak manusia pada kedamaian dan keselamatan dunia dan akhirat.
2.  Disekolah, hendaknya guru menjadikan akhlak peserta didik sebagai pijakan pertama dalam pemberian nilai bukan pada aspek kognitifnya saja. Karena  kenapa?, karena banyak orang pintar, cerdas namun akhlaknya bobrok.
3.   Sekolah hendaknya berusaha menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan pihak keluarga peserta didik. Misalnya, sekolah mengadakan seminar parenting guna untuk menambah wawasan keluarga peserta didik dalam mendidik anak di rumah sehingga pada akhirnya antara lingkungan sekolah dan keluarga peserta didik bisa bersinergi dengan baik
Kemudian, Secara teknis Permasalahan pendidikan di Indonesia adalah keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang belum merata, banyaknya anak-anak yang putus sekolah serta kualitas guru itu sendiri dinilai masih kurang. Terbatasnya akses pendidikan di Indonesia, terlebih lagi di daerah berujung kepada meningkatnya arus urbanisasi untuk mendapatkan akses ilmu yang lebih baik di perkotaan.
Menurut pegiat pendidikan Indonesia, Anies Baswedan keterbatasan akses pendidikan di daerah menjadi pangkal derasnya arus urbanisasi. "Yang menjadi persoalan, di Jabodetabek jumlahnya sudah proporsional, tapi jangan kita hanya bicara urban. Justru di luar urban itu kita punya masalah dan itu yang menyebabkan migrasi ke Jakarta," ujar Anies. Secara tidak langsung, masyarakat Indonesia didorong untuk melakukan urbanisasi karena keterbatasan fasilitas di daerah. Ia menilai akses pendidikan harus dibuka seluas-luasnya untuk seluruh masyarakat dengan penyediaan fasilitas yang mendukung program tersebut. "Kalau sekolah hanya di ibukota kecamatan, maka yang jauh kan jadi nggak bisa sekolah," tandasnya.
Selain itu, jumlah guru yang sesuai dengan kualifikasi saat ini dinilai masih belum merata di daerah. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Hamid Muhammad saat ini banyak sekolah dasar (SD) di Indonesia kekurangan tenaga guru. Jumlahnya diperkirakan mencapai 112 ribu guru.
Hamid dari Kemendikbud menjelaskan, jumlah guru SD di sekolah negeri dan swasta sekitar 1.850 ribu guru. Dari jumlah tersebut, hanya 60 persen guru yang sudah memenuhi kualifikasi dengan gelar S-1, sedangkan 40 persen lainnya belum memenuhi kualifikasi.
Di sisi lain, kasus putus sekolah anak – anak usia sekolah di Indonesia juga masih tinggi "Berdasarkan data Kemendikbud 2010, di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak setiap tahun tidak dapat melanjutkan pendidikan,  Hal ini disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor ekonomi; anak – anak terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi keluarga; dan pernikahan di usia dini,” menurut Sekretaris Direktorat Jendral Perguruan Tinggi Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M. Eng, Sc di Jakarta.
Persoalan Pendidikan tersebut tentunya membuat resah, karena maju mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan itu sendiri. Dari sinilah mungkin pemerintah harus menunjukan keseriusannya dalam mengurus pendidikan di Indonesia, Finlandia merupakan Negara yang kualitas pendidikannya nomor satu di dunia karena pemerintahnya memiliki keseriusan yang tinggi dalam mengembangkan pendidikan di Negaranya.
Menangani permasalahan tersebut tentunya pemerintah memilki peran sangat penting, solusi yang mungkin bisa dilakukan pemerintah dalam meningkatkan kualitas guru adalah dengan cara mengeluarkan suatu kebijakan tentang pelatihan guru, guru harus tetap senantiasa diberikan pelatihan-pelatihan khusus secara berkala meski sudah selesai dibangku perkuliahan, misalanya pelatihan guru bisa dilakukan di sekolah masing-masing minimal satu kali satu bulan atau satu kali tiga bulan.
Keterbatasan akses pendidikan bisa dihindari dengan cara pemerintah bisa membangun lembaga pendidikan  yang kualitasnya sama dengan yang ada di kota sehingga masyarakat tidak berpikir lagi untuk melanjutkan sekolahnya diperkotaan.
Banyaknya anak yang putus sekolah, sebenarnya inti permasalahan terletak pada orang tuanya, ketika orangtua paham tentang pentingnya pendidikan maka mereka akan mendorong anaknya untuk melanjutkan sekolahnya walaupun anaknya sudah menikah, disini dibutuhkan yang namanya kesadaran akan pendidikan. Nah, untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, sekolah bisa mengadakan seminar atau pelatihan parenting yang ditujukan untuk orangtua siswa.
Demikianlah sedikit masukan, semoga dengan tulisan ini pembaca bisa terinspirasi sehingga kita bisa mewujudkan pendidikan yang berkualitas di Indonesia.

No comments:

Post a Comment