Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat urgen dalam kehidupan
manusia karena hal tersebutlah yang memjadi pembeda antara manusia dengan
makhluk lainnya. Dengan kata lain kemuliaan manusia dengan makhluk yang lainnya
ada pada pendidikan. Manusia yang berpendidikan akan memiliki kearifan dan
kebijaksanaan dalam memecahkan suatu permasalahan, sedangkan manusia yang tidak
berpendidikan akan mengalami kesulitan dalam memecahkan persoalan hidup yang
dihadapi.
Pendidikan saat ini khususnya di Indonesia masih sangat jauh dari
harapan bangsa Indonesia yang termaktub dalam UUD 1945 Republik Indonesia yakni
mencerdaskan kehidupan bangsa, maka dari itu perlu diketahui bersama inti
permasalahan pendidikan yang ada di Indonesia agar bisa dipikirkan bersama
untuk menyelesaikannya. Di dunia
internasional, kualitas pendidikan Indonesia berada di peringkat ke-64 dari 120
negara di seluruh dunia berdasarkan laporan tahunan UNESCO Education For All
Global Monitoring Report 2012. Sedangkan berdasarkan Indeks Perkembangan
Pendidikan (Education Development Index, EDI), Indonesia berada pada
peringkat ke-69 dari 127 negara pada 2011.
Dominasi Materialisme Sumber Permasalahan Pendidikan
Materialisme merupakan salah satu penyakit dalam pendidikan saat
ini, karena dapat menghilangkan nilai-nilai ketuhanan yang dijunjung tinggi
selama ini. Hal ini digambarkan oleh Mustafa Masyhur bahwa Materialistik telah
mendominasi kehidupan masyarakat pada saat nilai-nilai ketuhanan mengalami
kemorosotan yang cukup parah. Hal ini sebagai akibat buruk dari gelombang kebudayaan materialistis yang
sedang membuncah serta peradaban hedonis syahwati yang telah menyerang
negara-negara secara keseluruhan. Kekelaman materi dalam kehidupan masyarakat
telah mengalahkan cahaya kebenaran dan ketinggian ruhani sehingga nilai-nilai
luhur tidak lagi menjadi sesuatu yang diagungkan.
Materialisme menurut Drijarkara
dalam bukunya yang berjudul Percikan Filsafat menggambarkan bahwa Materialisme
tidak mengakui entitas-entitas nonmaterial seperti roh, hantu, setan dan malaikat. Pelaku-pelaku immaterial
tidak ada. Tidak ada Allah atau dunia adikodrati. Realitas satu-satunya adalah materi
dan segala sesuatu merupakan manifestasi dari aktivitas materi. Materi dan aktivitasnya
bersifat abadi. Tidak ada penggerak
pertama atau sebab pertama. Tidak
ada kehidupan, tidak ada pikiran yang kekal. Semua gejala berubah, akhirnya
melampaui eksistensi, yang kembali lagi ke dasar material primordial, abadi, dalam suatu peralihan wujud yang abadi
dari materi.
Berdasarkan apa
yang digambarkan oleh Drijarkara di atas, bisa dipahami bahwa ketika pendidikan
saat ini sudah terjangkit penyakit kronis yang namanya materialisme maka tujuan
yang menjadi fokus manusia adalah bagaimana memenuhi kebutuhan fisiknya saja,dan
bagaimana mengumpulkan harta yang banyak tanpa memperhatikan lagi nilai-nilai
luhur yang selama ini dipelihara oleh masyarakat Indonesia, sehingga hal
tersebut jauh dari makna pendidikan sebagaimana yang dikemukakan oleh Nucholis
Madjid bahwa pendidikan atau tarbiyah
adalah proses transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didik agar
ia memiliki sikap dan semangat yang tinggi dalam memhami dan menyadari
kehidupannya, sehingga terbentuk ketakwaan, budi pekerti, dan kepribadian yang
luhur. Permasalahan ini merupakan permasalahan mendasar yang harus segera
diatasi oleh pakar-pakar pendidikan dan pemerintah khususnya di Indonesia.
Permasalahan dan Solusi Pendidikan di Indonesia
Untuk
menyelesaikan permasalahan mendasar tersebut, penulis sebagai pelaku pendidikan
mencoba untuk mengemukakan beberapa solusi yang bisa diterapkan di dunia
pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia. Adapun Solusi yang ditawarkan
penulis adalah sebagai berikut:
1. Hendaknya
pendidikan di Indonesia saat ini diintegrasiakan nilai-nilai agama karena dalam
agama mengajarkan nilai-nilai ketuhanan yang mengajak manusia pada kedamaian
dan keselamatan dunia dan akhirat.
2. Disekolah,
hendaknya guru menjadikan akhlak peserta didik sebagai pijakan pertama dalam
pemberian nilai bukan pada aspek kognitifnya saja. Karena kenapa?, karena banyak orang pintar, cerdas
namun akhlaknya bobrok.
3. Sekolah hendaknya
berusaha menjalin hubungan kerjasama yang baik dengan pihak keluarga peserta
didik. Misalnya, sekolah mengadakan seminar parenting guna untuk
menambah wawasan keluarga peserta didik dalam mendidik anak di rumah sehingga
pada akhirnya antara lingkungan sekolah dan keluarga peserta didik bisa
bersinergi dengan baik
Kemudian, Secara
teknis Permasalahan pendidikan di Indonesia adalah keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah
guru yang belum merata, banyaknya anak-anak yang putus sekolah serta kualitas
guru itu sendiri dinilai masih kurang. Terbatasnya akses pendidikan di
Indonesia, terlebih lagi di daerah berujung kepada meningkatnya arus urbanisasi
untuk mendapatkan akses ilmu yang lebih baik di perkotaan.
Menurut pegiat pendidikan Indonesia,
Anies Baswedan keterbatasan akses pendidikan di daerah menjadi pangkal derasnya
arus urbanisasi. "Yang menjadi persoalan, di Jabodetabek jumlahnya sudah
proporsional, tapi jangan kita hanya bicara urban. Justru di luar urban itu
kita punya masalah dan itu yang menyebabkan migrasi ke Jakarta," ujar
Anies. Secara tidak langsung, masyarakat Indonesia didorong untuk melakukan
urbanisasi karena keterbatasan fasilitas di daerah. Ia menilai akses pendidikan
harus dibuka seluas-luasnya untuk seluruh masyarakat dengan penyediaan
fasilitas yang mendukung program tersebut. "Kalau sekolah hanya di ibukota
kecamatan, maka yang jauh kan jadi nggak bisa sekolah," tandasnya.
Selain itu, jumlah guru yang sesuai
dengan kualifikasi saat ini dinilai masih belum merata di daerah. Menurut
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar (Dikdas) Kemendikbud Hamid Muhammad saat ini
banyak sekolah dasar (SD) di Indonesia kekurangan tenaga guru. Jumlahnya
diperkirakan mencapai 112 ribu guru.
Hamid dari Kemendikbud menjelaskan,
jumlah guru SD di sekolah negeri dan swasta sekitar 1.850 ribu guru. Dari
jumlah tersebut, hanya 60 persen guru yang sudah memenuhi kualifikasi dengan
gelar S-1, sedangkan 40 persen lainnya belum memenuhi kualifikasi.
Di sisi lain, kasus putus sekolah anak
– anak usia sekolah di Indonesia juga masih tinggi "Berdasarkan data
Kemendikbud 2010, di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak setiap tahun
tidak dapat melanjutkan pendidikan, Hal ini disebabkan oleh tiga faktor,
yaitu faktor ekonomi; anak – anak terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi
keluarga; dan pernikahan di usia dini,” menurut Sekretaris Direktorat Jendral
Perguruan Tinggi Dr. Ir. Patdono Suwignjo, M. Eng, Sc di Jakarta.
Persoalan Pendidikan tersebut tentunya membuat resah, karena maju
mundurnya suatu bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikan itu sendiri. Dari sinilah
mungkin pemerintah harus menunjukan keseriusannya dalam mengurus pendidikan di Indonesia,
Finlandia merupakan Negara yang kualitas pendidikannya nomor satu di dunia
karena pemerintahnya memiliki keseriusan yang tinggi dalam mengembangkan
pendidikan di Negaranya.
Menangani permasalahan tersebut tentunya pemerintah memilki peran
sangat penting, solusi yang mungkin bisa dilakukan pemerintah dalam
meningkatkan kualitas guru adalah dengan cara mengeluarkan suatu kebijakan
tentang pelatihan guru, guru harus tetap senantiasa diberikan
pelatihan-pelatihan khusus secara berkala meski sudah selesai dibangku
perkuliahan, misalanya pelatihan guru bisa dilakukan di sekolah masing-masing
minimal satu kali satu bulan atau satu kali tiga bulan.
Keterbatasan akses pendidikan bisa dihindari dengan cara pemerintah
bisa membangun lembaga pendidikan yang
kualitasnya sama dengan yang ada di kota sehingga masyarakat tidak berpikir
lagi untuk melanjutkan sekolahnya diperkotaan.
Banyaknya anak yang putus sekolah, sebenarnya inti permasalahan
terletak pada orang tuanya, ketika orangtua paham tentang pentingnya pendidikan
maka mereka akan mendorong anaknya untuk melanjutkan sekolahnya walaupun
anaknya sudah menikah, disini dibutuhkan yang namanya kesadaran akan
pendidikan. Nah, untuk menumbuhkan kesadaran tersebut, sekolah bisa mengadakan
seminar atau pelatihan parenting yang ditujukan untuk orangtua siswa.
Demikianlah sedikit masukan, semoga dengan tulisan ini pembaca bisa
terinspirasi sehingga kita bisa mewujudkan pendidikan yang berkualitas di
Indonesia.

No comments:
Post a Comment