Sebuah buku saku tergeletak di atas lantai bambu, membuat mata polos Kecil tertujuh padanya. Ia mulai melangkahkan kaki seraya berhenti mengambil buku saku tersebut. Tidak ada kata pengantar bahkan daftar isi namun, pada koper depan tertuliskan sebuah nama sang pemilik.
Qamariah nama pemilik tertuliskan alamat lengkap “PESANTREN DARUL ISTIQAMAH”. Rupanya sang pemilik adalah kakak yang menimbah pendidikan jauh dari luar Desa. Ia terdiam, sambil melirik seisi rumah. Tangan Kecil mulai membuka buku saku. namun, Ia kembali terdiam sambil menatap isi lembar perlembar. Ia hanya mampu membaca Iq’ra Taman Kanak-kanak Al-qur’an/Taman Pendidikan Al-qur’an (TKA/TPA) jilid III, tangan tidak kunjung menutup halaman.
Berhari-hari dipegangnya lalu dibaca tulisan yang bertuliskan bahasa Indonesia hingga terpikirkanlah sebuah pertanyaan. Siapa itu setan? Yang di maksud! Tanyanya pada diri sendiri lalu, Pikirannya menerawang kisah salah satu Nabi, kenapa manusia menjadi musuh yang nyata bagi setan? Apa maksudnya!.
Dalam buku saku bertuliskan” Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah [2] : 208 )“
Pertanyaan di simpan tanpa bertanya pada seseorang, Ia bertanya pada dirinya yang sudah pasti tidak akan mendapatkan jawaban. Kini Ia terinspirasi dari kisah Nabi Ibrahim yang mencari Tuhan-nya. Kisah Nabi Ibrahim diketahui dari cerita kepala sekolah saat mengambil alih kelas kosong. Nah inilah pemicuh membuat dirinya tidak ingin bertanya.
Rutinitas keluarganya memicuh Kecil ingin bertanya, apa yang Ibu dan Ayah lakukan saat Ayah berdiri di depan Ibu dengan suara yang besar saat matahari telah terbenam. Ia tahu bahwa apa yang Ayah baca dalam gerakan di namakan ayat-ayat Al-qur’an.
Hari itu Ia menghampiri Ibu seraya berkata
” apa yang sedang Ibu laksanakan saat ayam sudah pulang kekandangnya. lalu, apa nama gerakan itu?”
Ibu”gerakan sholat namanya”
Ia kecil, teringat gerakan senam pagi yang di lakukan setiap hari jum’at di sekolah SD. Iringan musik di sela-sela lagu di balik tape pemandu senam.
Kecil ”apa yang Mama baca?” sambil menpraktekkan gerakan.
Ibu”di mulai takbiratul ihram, doa iftitah, ruku/sujud, i’tidal, duduk di antara dua sujud, tasyahud, sholawat Nabi, doa sesudah tasyahud dan salam” ucap Ibu kemudian menjelaskan satu persatu.
Kecil”Aku juga akan sholat” ucapnya.
Dengan akal yang dianugerahkan Allah kepada manusia, Ia akan megenal diri dan Tuhannya. “ Akan kami tunjukkan ayat-ayat kami ke dunia ini dan dalam diri mereka agar kebenaran tampak bagi mereka”(QS.41:53), tidak ada yang lebih dekat dengan diri selain diri sendiri. Kebenaran inilah yang di isyaratkan oleh Nabi ketika beliau bersabda” setiap anak dilahirkan dengan fitrah (kecenderungan menjadi muslim), orang tuanya kemudian menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”
***
Senjah di sore itu menemani langkah Kecil menuju lapangan, pengamatannya tidak hanya berhenti pada apa yang di lihat. Mulai dari teman bermain, anak balita, hingga orang dewasa. “Apakah Aku di lahirkan? apakah Aku langsung dapat jalan? apakah Aku langsung dapat lari?” tidak satupun di rumah Ia tanyakan, Ia Kecil suka menampung pertanyaan dan berharap suatu hari akan menemukan jawabannya.
Dengan bermain, Ia Kecil mengamati setiap langkah satu persatu manusia. Mulai seolah-olah menjadi malaikat pencatat amal manusia. “Setiap manusia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya di hadapan yang Maha Kuasa (Allah)” ucap ustazah saat menjelaskan tentang Iman kepada malaikat.
Di balik gunung yang menjulang tinggi ke atas langit nampak matahari seolah bersembunyi. Ayam-ayam kampung kini pulang ke kandang manusia yang memadati lapang kini satu persatu telah meninggalkan tempat. Ia Kecil berjalan pulang sambil mengambil ransel yang di bawahnya saat berangkat ke TKA/TPA. Setiap hari Ia menulusuri perjalanan yang bermula rumah kediaman, sekolah dan TKA/TPA saat jam 01.00-04.300 selebihnya Ia habiskan bermain di lapangan kampung.
Keesokan harinya, pelajaran kesenian berlangsung dilihat salah satu teman mengambil pensil warna miliknya. Ia Kecil bergegas mengambil pensil, dicatat dalam sebuah lembaran.
Ia Kecil masih tidak ingin melaporkan pada guru, pengamatan hari ini hanya tertujuh pada seorang. Langkah ceriah saat pelajaran telah usai dalam benaknya bahwa Ia telah berhasil menjadi malaikat pencatat amal buruk.
Saat tiba di rumah Ibu sedang menjahit baju “ Ma aku punya cerita” pintahnya.
Ibu ”ganti baju, sholat kemudian makan” balasnya. Dengan langkah malas Ia melaksanaakan perintah. Ia bergegas meski rasa malas menyelimuti namun cerita yang akan disampaikan membuat dirinya kembali semangat.
Kecil ”Ma temanku mencuri” ucapnya tanpa pengantar.
Ibu ”cerita apa ini? balas Ibu dengan penuh perhatian.
Kecil “di sekolah tadi Besar mengambil pensilku”
Ibu “jangan bilang begitu, nanti orang tuanya marah” jelas Ibu Kecil
“tapi Aku melihatnya” protes Kecil.
Ibu “Mungkin Besar lupa meminjam, nanti dia akan kembalikan”
Kecil “Ah tau apa coba?” tanyanya sebal.
Burzz.. belum sempat Ibu menjawab pertanyaan terdengar suara tetanggah sedang marah-marah.
Kecil “Mama beda, teman-teman Kecil kalau mengadu pasti anak itu dapat marah” ucapnya kesal. Di raihnya tangan kecil sambil mengajaknya kedepan rumah tanpa penjelasan. Di teras rumah nampak jelas dua seorang ibu sedang adu mulut, membuat semua orang melihatnya. Ia kecil tidak mengerti mengapa Ibu mengajaknya mendengar hal yang mengerikan.
Dalam kesehariannya, Ia tidak pernah mendengar suara kasar dalam keluarga. Mengapa mereka bertengkar? Ibu menyadari ekspresi Kecil.
Ibu “Mama mengerti apa maksudmu, tidak semua ucapan seorang anak harus di penuhi. Tahukah kenapa mereka bertengkar?”ucap Ibu.
Kecil “tidak”
Ibu “itu karena salah satu dari Ibu itu mendengarkan semua ucapan anaknya, berapa menit kedepan anak-anak mereka akan berdamai dan kedua orang tua anak itu akan tetap bermusuhan. Mengapa? Coba kamu pikirkan!” ucap Ibu sambil masuk kedalam rumah.
Ia kecil masih merenugkan perkataan tadi, bukan karena tidak percaya menurutnya apa yang dilakukan kedua orang tua itu adalah hal yang benar. Kali ini Ia akan mengamati perkembangan tetanggahnya.
Berapa menit kemudian kedua anak itu bersalaman, Ia kecil tercengang. “Ia memamg Mama selalu benar” ucapnya kemudian masuk kedalam rumah.
***
Pertanyaan tidak kunjung habis saat Ia mulai berpikir. “Doa makan” ucapnya sebelum menghapiri Ayah yang sedang membaca Al-qur’an. Waktu itu tepat jam 05.30 saat Ia baru selesai sholat subuh.
“Ayah”ucapnya.
“Kenapa?”
“Ayah apa ada doa keluar rumah?”
“Ada” jawab ayahnya.
“Dapatkah Ayah mengajarkannya?” tanyanya lagi.
“Tentu” balasnya. kemudian mulai membaca ayat berulang-ulang kali kemudian disusul dengan artinya dan alhamdulillah atas izin Allah Ia kecil menghapalnya.
Ia Kecil begegas mandi lalu sarapan, diraihnya tas dan pamit kepada kedua orang tua sambil mencium tangan. Sebelum melangkahkan kaki, Ia membesarkan suaranya mengucapkan doa. ketika Ia melangka melambaikan tangan sambil tersenyum ke sekolah yang berjarak beberapa meter.
“oh Ibu dan Ayah selamat pagi
ku pergi sekolah sampailah nanti
selamat belajar nah penuh semangat
hormati gurumu, sayangi teman mu
itulah tandanya kau murid teladan”nyanyinya di perjalanan.
Jam, detik, menit, tidak terasa mengantarkan Ia kecil semakin besar. Pemahamannya kini semakin meningkat, Jam 12.30 Ia bersiap-siap berangkat ke TKA/TPA rutinitas setiap hari. Hari ini seluh pertanyaannya kini terjawab saat Ustadza bercerita awal mula manusia diciptakan berdasarkan Al-qur’an yang dibacakan. Bulan depan Ia kecil akan Wisudah penamatan Al-qur’an.
Malam itu, ia berjalan sendiri di tengah kampung, setelah Ia pulang dari rumah teman mengerjakan tugas sekolah. Petir menyambar disertai guntur Ia kecil mulai merenungi perjalanannya. Dalam renungannya mengantarkan kepada ayat-ayat Allah.
“Atau seperti (orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit, yang disertai kegenapan, petir dan kilat. Mereka menyumbat telinga dengan jari-jarinya, (menghindar) suara petir itu karena takut mati. Allah meliputi orang-orang yang kafir. Hampir saja kilat itu menyambar penglihatan mereka. Setiap kali (kilat itu) menyinari, mereka berjalan di bawah (sinar) itu, dan apa bila gelap menerpa mereka, mereka berhenti. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia hilangkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sungguh Allah maha kuasa atas segala sesuatu (QS. AL-BAQARAh: 19-20)”.
. “ Akan kami tunjukkan ayat-ayat kami kedunia ini dan dalam diri mereka agar kebenaran tampak bagi mereka(QS.41:53)”,
“Siapa yang berjuang dijalan kami, pasti akan kami tunjukkan kepadanya jalan-jalan kami (yang lurus).(QS. 29:69)” (Written By Nur Jannah)

No comments:
Post a Comment